Monday, August 23, 2010

Mengapa Kita Terkadang Melakukan Kesalahan Yang Sama

Sudah dua hari ini saya merasa melakukan kesalahan yang sama terhadap pasangan? haduh, padahal jika dipikirkan secara baik-baik, kesalahan tersebut seharusnya bisa dihindari. Mungkin untuk kesalahan saya yang pertama kali terjadi, pasangan saya bisa memaafkan, tetapi apabila yang kedua kalinya, atau bahkan, kesekian kalinya, apakah masih bisa dimaafkan?. Semoga saja masih bisa dimaafkan? (Ngarep Mode On)

Namun mau gimana lagi, ibarat kata, nasi sudah menjadi bubur, kesalahan tersebut tetap saja telah terjadi. Mengapa demikian? Hm, saya harus cari tau jawabannya.

Setelah proses pencarian jawaban atas pertanyaan diatas, saya menemukan artikel yang sangat menarik mengenai masalah ini tentunya, (terima kasih kepada budiartofam.multiply.com. Sangat bermanfaat sekali)

Saya selalu ingat sosok dosen yang mengajar ilmu Kimia Dasar ditahun pertama masa perkuliahan. Beliau mengatakan;"Keledai, tidak pernah terjerumus kedalam lubang yang sama." Kalimat itu pendek. Tetapi penuh makna. Dan ingatan saya menyimpannya lebih baik dibandingkan terhadap ilmu kimia itu sendiri. Sesungguhnya, dosen saya itu sedang menyampaikan pesan supaya kita - manusia – tidak melakukan kesalahan yang sama secara berulang-ulang. Tanpa disadari, ternyata memang kita mempunyai sifat mengulang-ulang kesalahan semacam itu. Kita tahu bahwa itu salah, tapi dilakukan lagi, dan lagi. Kita bertobat. Namun, kembali melakukannya. Mengapa ya?

Kita sering menemukan orang yang tidak bosan-bosannya melakukan tindakan negatif. Kita sendiripun demikian. Saat kita merenung dimalam hari, hati kita berbisik;"Iya, kenapa saya melakukan hal itu ya? Mestinya kan tidak begitu." Dan ketika kita memikirkannya dengan lebih seksama, ternyata bukan sekali itu saja kita melakukannya. Makanya, tidak mengherankan jika kita sering bercucuran air mata saat menyampaikan pengakuan dosa, namun; kok begitu sulitnya bagi kita untuk menghentikan perbuatan itu. Lalu kita mengaku dosa lagi. Dan melakukan perbuatan itu lagi.

Saya tidak tahu pasti, apakah keledai benar-benar tidak pernah terjerumus kedalam lubang yang sama. Tetapi, kelihatannya memang demikian. Setidaknya, saya melihat perilaku itu pada kuda, karena dikampung saya banyak sekali kuda. Kuda tahu persis lubang yang pernah membuatnya terperosok. Ketika melintasi daerah yang sama, dia membelok; dan selamat dari jebakan lubang itu untuk kedua kalinya. Ada dua alasan mengapa terperosok kedalam lubang yang sama itu bukanlah gagasan yang bagus. Pertama, terperosok kedalam lubang yang sama menguatkan rasa sakit yang pernah kita alami sebelumnya. Melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang juga demikian. Ketika kita melakukan kesalahan untuk pertama kalinya, mungkin akan mudah untuk mendapatkan maaf atau pengampunan. Tetapi, jika kesalahan itu dibuat berulang-ulang? Anda mungkin saja sangat pemaaf, tetapi jika orang yang anda harus maafkan itu melakukan kesalahan yang sama terus-menerus, apakah pintu maaf itu selalu terus terbuka untuknya? Orang lain juga demikian. Sekali kita melakukan kesalahan. Mereka memaafkan. Untuk yang kedua kalinya?

Terperosok kedalam lubang yang sama? Hah..., keledai saja tidak pernah. Padahal, kultur kita menganggap keledai itu mahluk paling bodoh dimuka bumi. Sampai-sampai kita membuat frase 'keledai dungu!'. Hey, keledai itu tidak pernah terperosok kedalam lubang yang sama lho. Manusia seperti kitalah yang sering mengalaminya. Jadi.... ketika kita bilang 'keledai dungu!', jangan-jangan si keledai bilang ;"Ngaca dong bok!" Agak sedikit memalukan ya. Itulah alasan yang kedua.

Baiklah, mari kita akui saja bahwa kita sering melakukan kesalahan yang sama. Tapi, apakah itu berarti kita harus mengakui bahwa yang dungu itu bukan keledai? Bukankah kita sering mendengar; "Tidak apa-apa, namanya juga manusia. Melakukan kesalahan itu biasa." Kalimat ini ada benarnya. Tapi tidak selamanya demikian. Benar jika kita menerapkannya dalam konteks yang benar. Keliru jika kita menjadikannya alat untuk berkilah. Untuk itu, kita perlu membedakan dua jenis kesalahan yang biasa kita lakukan. Pertama, kesalahan yang berhubungan dengan keterbatasan keterampilan, atau skill kita. Kedua, kesalahan yang berhubungan dengan pelanggaran norma dan nilai kemanusiaan kita.

Kesalahan jenis pertama tidak serta merta digolongkan sebagai dosa. Kita melakukannya karena memang kita tidak bisa. Hari ini kemampuan kita belum bagus, jadi kesalahan itu terjadi. Tapi, kemudian kita belajar, sampai akhirnya benar-benar mahir. Setelah mahir itulah kita bisa terbebas dari peluang melakukan kesalahan yang sama. Kita tidak salah lagi, karena memang sekarang kita sudah terampil. Jadi, kesalahan yang berulang-ulang masih bisa diterima dalam konteks proses pembelajaran. Kita bisa meminta bantuan teman. Atau mengikuti kursus dan pelatihan. Apa saja. Yang penting ada kemauan, dan disediakan kesempatan untuk melakukan perbaikan.

Kesalahan jenis kedua, lain lagi. Ada tendensi dalam diri kita untuk melakukan itu. Kita tahu bahwa ada hak-hak orang lain yang terampas dengan perbuatan kita. Kita tahu, bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya itu merupakan perilaku buruk. Anehnya, kita bukan sekedar tahu saja; kita menyerukan kepada orang lain untuk tidak melakukannya. Kita turun ke jalan-jalan, lalu meneriakkan slogan-slogan. Dan...., ketika kita mempunyai kesempatan; kesalahan itulah pula yang kita lakukan.

Kita melakukannya dimasa lalu. Baiklah, itu dimasa lalu. Semoga Tuhan mengampuni. Dan orang yang dirugikan memaafkan, mudah-mudahan. Tetapi, itu hanya boleh terjadi dimasa lalu saja. Bagaimana caranya untuk tidak mengulangi hal itu dimasa depan, itulah pertanyaannya kemudian.

Pendek kata; Jangan terlampau merisaukan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan karena kurangnya pengetahuan, pengalaman dan keterampilan. Biar saja, karena berbuat kesalahan semacam itu sifatnya manusiawi. Semua orang melakukan kesalahan yang sama ketika tingkat keterampilannya masih rendah. Kita bisa belajar untuk memperbaikinya, kok. Tenang saja. Berlatih dan berkemauan teguh bisa membantu kita mencapai kesempurnaan. Namun, jika kesalahan itu menyangkut sistem nilai atau pelanggaran norma, maka jalan keluarnya hanya satu: hentikan. Itu saja.

Tak ada manusia yang benar-benar bersih dari kesalahan. Apakah karena ketidaktahuan, atau karena kesengajaan. Itu masa lalu. Masa depan, itulah fokus kita. Terimalah masa lalu kita apa adanya dia, dan rancanglah masa depan dengan lebih baik lagi. Keledai saja bisa. Mengapa kita tidak?

Selain memiliki arti kiasan, kata 'terperosok' dan 'lubang' juga tentu memiliki arti kata yang sebenarnya. Artinya, ada lubang dan ada yang terperosok jatuh kedalam lubang itu. Dijembatan penyeberangan Bus Way Benhil depan Atmajaya, lempengan baja yang menjadi lantai jembatan jebol dan terjungkat keatas. Membentuk lubang besar yang menganga disana. Orang bisa tersandung atau bahkan terperosok kelubang itu. Kerusakan itu sudah terjadi sejak lama. Dan sampai tanggal 19 Maret 2008 tidak juga ada perbaikan, malah semakin parah. Adakah yang bisa memberitahu petugas pemda untuk memperhatikan dan memperbaiki kerusakan itu? Tolong beritahukan kepada mereka ya, teman. Jangan karena belum terjadi kecelakaan kita menganggap hal semacam itu sepele.

Dimasa lalu, kita sering membiarkan fasilitas umum rusak sampai terjadi kecelakaan. Itu sebuah kesalahan. Sudah saatnya kita meniru keledai yang tidak melakukan kesalahan yang sama. Mulai sekarang, jika ada jalan yang rusak atau jembatan yang berlubang; jangan membiarkan pengendara motor terjatuh dulu. Atau pejalan kaki tersungkur. Segera perbaiki. Kita dan keledai sama-sama memiliki insting. Kalau keledai melihat jalan berlubang, maka instingnya mengatakan:"Cari jalur lain untuk lewat." Kalau kita melihat lubang semacam itu, maka insting kita mengatakan:"Perbaiki." Lalu kita memanggil kontaktor, dan membayar mereka untuk mengerjakannya sebaik mungkin. Para pembayar pajak berhak mendapatkan semuanya itu.

No comments:

Post a Comment